YUK NGAJI!

YUK NGAJI!

TANWIR MUHAMMADIYAH

TANWIR MUHAMMADIYAH

REKAM JEJAK KEBAJIKAN

Loading...

Minggu, 30 Maret 2014

ANAKNYA MENDERITA DOWN SYNDROME, GAGAL GINJAL DAN KELAINAN PARU-PARU


Musibah memang tidak pilih-pilih. Besar kecil, kaya miskin, tua muda, tidak pandang usia, siapa pun bisa tertimpa musibah, baik itu berupa penyakit, kecelakaan, kesengsaraan dan kerugian, baik materi maupun non materi. Jika Allah Swt sudah berkehendak maka yang bisa dilakukan oleh hambaNya hanya sabar, ikhlas dan tawakal. Senantiasa berikhtiar, pantang menyerah dan tiada berputus asa juga harus dilakukan sebagai wujud dari kesabaran hati.

Itulah yang dialami oleh keluarga Fuad, mualaf, warga di Jalan Jagalan II Surabaya. Sebelum tinggal di Jagalan Gg III, keluarga Fuad tinggal berpindah-pindah. Ia belum memiliki rumah sendiri sehingga harus kontrak. Karena mengontrak ia harus siap berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain ketika kontrakannya sudah habis.

Fuad beristrikan Sutini dan dari pernikahannya ia dikaruniai 4 (empat) orang anak, antara lain : Vindawati (tamat SMA), Arief Harsono (Pelajar SMPN 37), Agnes Wijaya (Belum sekolah) dan Marselah Wijaya yang masih bayi.

Sehari-hari Fuad bekerja sebagai sales gembok dan barang peralatan dari sebuah toko di Jl. Kenjeran dengan penghasilan 1 juta - 1,5 juta rupiah per-bulan. Penghasilan itu jauh dari cukup untuk kebutuhan hidup bagi keluarganya. Beruntung anak yang pertama, Vindawati setelah tamat SMA diterima bekerja sebagai penjaga toko alat-alat mesin di Kembang jepun dengan penghasilan 1,2 juta rupiah per bulan sehingga sedikit membantu kebutuhan keluarga.

Sabtu, 29 Maret 2014

MDMC SURABAYA REKRUT RELAWAN BARU


Muhammadiyah Disaster Managemen Center (MDMC) atau Lembaga Penanggulangan Bencana PDM Surabaya terus bergerak tiada henti. Mitra sinergi LAZISMU Surabaya itu pada hari jum’at s/d ahad, tanggal 28-31 Maret 2014, mengadakan Pelatihan Dasar II Relawan Siaga Bencana 2014. Kegiatan pelatihan tersebut ditempatkan di Bumi Wana Wisata Coban Rondo, Malang, diikuti oleh 50 orang peserta.

Menurut Fery Yudhi Antonis, Ketua MDMC Surabaya, pelatihan ini selain untuk meningkatkan wawasan tentang kebencanaan juga dimaksudkan sebagai ajang untuk merekrut calon relawan MDMC yang baru guna menambah personil yang telah ada. Para calon relawan ini nantinya setelah pelatihan akan dilantik dan selanjutnya siap diterjunkan pada momen pertolongan kebencanaan di daerah rawan dan terdampak bencana yang ada di seluruh nusantara.

Materi pelatihan yang diberikan meliputi Al-Islam dan KeMuhammadiyahan, kepemimpinan, kesiapsiagaan, kebencanaan, standar operasional prosedur tanggap darurat bencana, manajemen penanggulangan bencana, manajemen posko dan logistik, P3K, dan sebagainya. Instruktur yang memberikan pelatihan berasal dari MDMC, BPBD, BASARNAS, PDM Surabaya, dan Mupalas UMSurabaya.

video

Peserta sebagian besar adalah kaum muda yang berasal dari perguruan Muhammadiyah, Ortom, anak asuh Panti Asuhan, aktivis kampus, pecinta alam dan masyarakat umum.(Adit-RED).

video



        

Selasa, 25 Maret 2014

DARI SEKEDAR HOBI, KINI MAU BUKA GERAI


Awalnya hanya sekedar hobi dan coba-coba membuat kue dengan bahan-bahan yang ada di dapur, namun kini dua dara muda dari Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah-II Kebonsari ini tengah bersiap diri untuk menekuni usaha bisnis kue brownies. Mereka adalah Rina Izlatul Lailiyah dan Musdolifah, mahasiswi Unesa dan Unmuh semester akhir.

Dua gadis muda ini selalu ingin mencoba kreasi baru dengan makanan. Maka muncullah inspirasi untuk membuat brownies yang berbeda dengan brownies pada umumnya. Dengan motto “Lezat Menyehatkan” mereka berdua membuat kue brownies dengan mencampurkan bahan sayuran dan buah disamping bahan utama cokelat. Hasilnya adalah brownies buah dan sayuran dengan rasa segar dan menyehatkan.


Mulanya kue brownies buatan mereka itu dipasarkan kepada teman-teman kuliah, kerabat dan juga sesekali dijual pada even kegiatan ‘Aisyiyah. Karena laku, maka mereka pun merasa tertantang untuk memproduksi kue brownies walau di sela-sela kesibukan kegiatan kuliah.

Ketika LAZISMU Surabaya mengadakan Youth entrepreneurship Challenge mereka berdua ikut serta dan berhasil membuat proposal bisnis kue brownies untuk diaplikasikan menjadi sebuah brand/merek. Maka lahirlah merek “Vegan - Fruit & Vegetable Brownies”. Karena konsep mereka berdua jelas dan aplikatif, maka LAZISMU Surabaya berkenan memberikan bantuan modal usaha. Dengan modal itu impian mereka untuk membuka gerai atau counter kue brownies segera terwujud. (Adit-RED).

Minggu, 23 Maret 2014

PANTANG MENYERAH WALAU PATAH KAKI


Giyardi, seorang buruh cuci sepeda motor, tinggal bersama istri dan kedua anaknya di Jl. Sidotopo Wetan II Surabaya, di sebuah rumah warisan seluas 4 x 4,5 m2. Buah pernikahannya dengan Rijanah, ia dikaruniai dua orang anak. Anak yang pertama Rizki Virli Agustio kini duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA Mardisiwi Tambaksari. Anak yang kedua bernama Rizal Putra Agusti kelas 2 SMA juga bersekolah di sekolah yang sama seperti kakaknya.

Sebelum bekerja sebagai buruh cuci sepeda motor, Giyardi pernah bekerja sebagi kuli Bangunan. Ia beralih profesi setelah pada tahun 2013 kakinya patah karena kecelakaan ditabrak mobil di Darmo Hill. Oleh Dokter ia diberi pen luar dan baru. Setelah satu tahun pen dilepas kemudian diganti dengan gypsum.

Setelah itu Giyardi tidak bisa bekerja lagi sebagai kuli bangunan, sementara istri dan anaknya membutuhkan biaya hidup disamping biaya sekolah. Melihat keadaan tersebut teman Giyardi yang bernama Toni ikut peduli dan akhirnya memberikan tawaran pekerjaan sebagai buruh cuci sepeda motor. Tawaran tersebut disanggupi oleh Giyardi.

Selasa, 18 Maret 2014

BINA USAHA MIKRO UKM BMW LAZISMU SURABAYA


Kegiatan Bina Usaha Mikro yang dilakukan oleh Unit Keuangan Mikro Bina Mandiri Wirausaha (UKM BMW) LAZISMU Surabaya hingga kini masih terus berjalan. Saat ini sudah 150 orang terdaftar sebagai anggota binaan. Dari sekian jumlah itu sebagian besar adalah berusaha pada sektor informal seperti PKL, toko, warung, penjual sayur-mayur, bakso, pangsit, dan jasa.

Pembinaan yang dilakukan UKM BMW adalah dengan menggulirkan pinjaman modal usaha (tanpa bunga/jasa) dan terus mendorong agar mereka mau maju dan berkembang usahanya. Seperti pada pertemuan UKM BMW tanggal 15 Maret 2014 di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Arvi Irchami, pembina UKM, mengajak anggota BMW untuk berani keluar dari kemapanan. Artinya berani mencoba sesuatu yang baru, menjual barang yang baru, bahkan diversifikasi usaha baru. Jika mulanya anggota binaan hanya membuka toko kelontong atau warung makan sederhana, maka perlu keberanian untuk membuka usaha lain seperti warung kopi giras yang kini marak terdapat dimana-mana. Atau jika anggota dalam hal kemasan / bungkus barang dagangan hanya sekedarnya dan terkesan tampil asal-asalan, maka harus mencoba dengan design kemasan yang lebih baik dan menarik pembeli. Pendek kata dalam berbisnis jangan pernah takut melakukan terobosan baru guna meraih keuntungan maksimal.

Disamping pembinaan dengan pertemuan rutin di dalam kelas, monitoring dan evaluasi lapangan pun juga dilakukan. Selain untuk menjalin silaturrahim yang lebih erat dengan anggota, juga dimaksudkan untuk memberikan penyuluhan tentang usaha yang dijalankan oleh anggota. Dalam kegiatan kunjungan lapangan ini ditemui berbagai kendala yang dirasakan oleh anggota binaan, diantaranya masalah kesulitan mengatur cash flow, marketing, kualitas barang, kemasan, hubungan dengann pembeli / konsumen dan lain sebagainya. (Adit-RED).

Senin, 17 Maret 2014

NABI Sang Pemimpin Agung

Oleh : Abdul Hakim, M.Pd.I

Harus disadari, dunia kini tengah dilanda krisis pemimpin dan kepemimpinan. Pemimpin dan kepemimpinan menjadi biang konflik dan krisis. Pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinan nafsi-nafsi, bahkan bebas nilai. Kepemimpinan dipandang sebagai sumber gelimang materi dan gengsi. Demi mendapatkan status sebagai pemimpin, tidak jarang orang menerapkan strategi katak berenang. Ke atas menjilat, kesamping menyikut, ke bawah menginjak. Demi meraih status “pemimpin” orang berani menempuh dan menghalalkan segala cara. Di antaranya dengan membangun konspirasi, memanipulasi fakta diri, atau menebar janji dan mimpi. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah buah kepemimpinan bodong dan sesat ini.

Padahal, pemimpin dan kepe-mimpinan adalah sunnatulloh. Alloh SWT memilih manusia untuk menjadi khalifah untuk menegakkan kebenaran dan keadil-an demi keselamatan, kemaslahatan, kemuliaan dan kebahagiaan universal. Pe-mimpin dan kepemimpinan adalah kebu-tuhan absolute, prinsip dan fundamental. Sebuah hadis sahih menegaskan, “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.”

Maka di tengah kerinduan akan sosok pemimpin, umat Islam sesungguhnya sudah sejak lama memiliki sosok pemimpin agung, yakni Rosululloh Muhammad SAW. Kekaguman dunia terhadap sosok nabi akhir itu tidak hanya dinyatakan para saksi terdekat, keluarga, sahabat, maupun para tokoh muslim. Decak kagum itu secara jujur telah disampaikan oleh para inelektual nonmuslim seperti dikutip oleh Dr. Syafii Antonio dalam Muhammad SAW The Super Leader Super Manajer.

“Orang-orang hebat itu seratus jumlahnya dan yang paling hebat adalah Muhammad,” Michael H. Hart, penulis Seratus Tokoh Paling Berpengaruh.

Jumat, 14 Maret 2014

MUSLIM SEJATI HARUS MEMBELA KAUM YANG LEMAH

Islam sebagai ajaran agama yang utuh tidak menganjurkan pembiaran terhadap derita umat manusia lain dan hanya berkutat pada penyelematan diri sendiri tanpa mau tahu dengan sekitarnya. Islam justru menganjurkan agar umatnya senantiasa mengiringi peneguhan iman dengan praktik amal shalih berupa amal penyelamatan sosial. Pengertian iman saja sangat luas. Mencakup bagaimana ketika iman berfungsi maka harta, nyawa dan martabat manusia lain harus aman, terlindungi dan terjaga.

Setiap titik inti ajaran Islam, termasuk ibadah mahdlah selalu dimaksudkan agar memiliki manfaat sosial. Mulai dari dua kalimat syahadat yang mengisyaratkan orientasi kehidupan dunia dan akhirat, kemudian shalat yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam perdamaian ke arah kanan dan kiri (ke arah lingkungan sosial). Kemudian puasa di bulan Ramadlan yang menyadarkan akan perlunya solidaritas dengan memperbanyak sedekah. Zakat sangat jelas orientasi sosialnya dan ibadah haji yang dimaksudkan untuk napak tilas atau menjelajahi jejak spiritual Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam upaya pembebasan kemanusiaan universal.

Seorang Muslim yang baik dan berkualitas akan membuat orang lain terselamatkan nasibnya berkat ucapan dan tindakannya. Pemahaman terhadap ajaran Islam yang seperti ini sudah mulai menyebar, terutama di kalangan yang mau melakukan kajian terhadap semangat Islam dan bagaimana memfungsikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kajian sering ditemukan banyak sekali hal-hal baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. KH. Ahmad Dahlan, Bapak Pendiri Muhammadiyah, juga mengalami hal yang demikian. Ketika membaca berulang-ulang surat Al-Ma’un, KH. Ahmad Dahlan mendapat pencerahan bahwa surat itu tidak boleh hanya dihafal dan diulang-ulang membacanya. Tetapi harus dipraktikkan sebagai alat untuk membebaskan sesama manusia, khususnya mereka yang yatim dan miskin atau kelompok lemah dan dilemahkan.

Selasa, 11 Maret 2014

UJIAN KEHIDUPAN DI MASA SENJA



Masa tua atau usia lanjut, selayaknya sebagai masa untuk menikmati pencapaian hidup yang dimulai dari masa muda. Ketika tua semestinya kita menikmati apa yang telah kita raih selama hidup sembari persiapan akhir tatkala Allah memanggil kita nanti. Namun ada kalanya di masa tua bukanlah kenikmatan hidup yang dirasakan, tetapi justru penderitaan berkepanjangan hingga ajal menjemput. Itulah ujian akhir yang akan menentukan ‘lulus’ tidaknya dalam hidup ini.

****************

Tim LAZISMU Aksi Peduli Dhuafa (LAPD) senantiasa mengemban tugas ‘blusukan’ masuk-keluar kam-pung dalam rangka bersilaturrahim deng-an kaum dhuafa, menyampaikan santun-an dari donatur tercinta dan menebar doa akan kehidupan yang lebih baik.

Bulan Februari 2014 lalu tim LAPD LAZISMU Surabaya mengunjungi rumah bapak Nurachman (71 tahun) dan Ibu Rukaya di sebuah gang di Jalan Jagalan Surabaya. Bapak Nurachman pernah meni-kah dengan istri pertama yang bernama Masriyah (61 tahun), namun sudah cerai dan memiliki 1 orang anak yang bernama Anita Rachma (29 tahun). Anita sudah menikah dan bekerja. Kini ia tinggal bersama suaminya, seorang salesman, di sebuah rumah kontrakan di Rungkut.

Kemudian bapak Nurachman menikah lagi dengan Zubaidah (59 tahun) yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) dan tinggal bersamanya di rumah warisan berukuran 7x17m bersama dengan 25 orang saudara-saudaranya.

Kondisi rumah memang sangat memprihatinkan. Hal itu membuat Pemkot Surabaya pernah menawarkan mereka agar tinggal di UPTD Griya Werdha Rungkut. Namun mereka tetap memilih tinggal bersama di rumah warisan itu.

Adapun Rukaya (67 tahun, belum menikah) merupakan anak ke 4 dari 13 bersaudara dan saat ini tinggal bersama 8 saudaranya di rumah warisan yang sama. Beliau bekerja sebagai penjual kue keliling, titipan dari tetangga, dengan pendapatan sebesar Rp. 15.000 / hari. Dalam kondisi usia lanjut ‘keluarga besar’ ini masih dililit kemiskinan dan kekurangan.



WARGA SURABAYA TETAP PEDULI LANSIA

Warga Surabaya terbukti masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lanjut usia. Ini terbukti dari tidak adanya warga lanjut usia (lansia) yang berkeliaran tanpa tempat tinggal atau terlantar di jalanan. Warga dan Pemerintah kota sangat mempedulikan dan memperhatikan nasib warga lanjut usia dengan cara dan kebajikannya masing-masing.

Itulah yang dialami oleh Ibu TUAH. Beliau saat ini sebagai warga di RT 07 / RW 04, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari Surabaya. Janda berusia 76 tahun ini pada mulanya terlantar dan kondisinya tidak bisa melihat atau buta. Semula beliau tinggal bersama putranya yang bernama Abdullah (48 tahun), masih lajang yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan yang masa kerjanya juga tidak menentu, bahkan lebih banyak menganggur dan sering tidak berada di rumah. Kondisi ini menjadikan sang ibu tidak terurus.

Alhamdulillah sejak tahun 1966 Ibu TUAH menumpang di rumah bapak Ahmad Slamet yang rela berbagi tempat untuk beliau tinggal. Namun rumah yang ditempati berukuran 3 x 3 meter dan sangat sederhana. Bila Hujan atapnya bocor dan banjir bila hujan lebat. Untuk makan sehari-hari ibu ini menggantungkan pemberian dari tetangga dan orang yang ditumpanginya. Bila anaknya bekerja ibu Tuah dijaga oleh bu ATIEK HARIYATI, anak dari bapak Ahmad Slamet.

Ketika tim LAPD LAZISMU Surabaya berkunjung ke tempat tinggalnya, beliau merasa terharu dan senang, walau tidak bisa melihat. Kepada beliau LAZISMU Surabaya memberikan doa dan harapan agar sang ibu tetap sabar dan selalu bahagia di usia senjanya.



TETAP SEMANGAT DI KALA SENJA

Bersyukurlah kita masih dikaruniai indera pengelihatan yang masih normal, sehingga dapat merasakan indahnya dunia. Alangkah kufurnya jika kita menyia-nyiakan nikmat Allah berupa mata yang berfungsi sebagai indera pengelihatan namun tidak kita gunakan untuk melihat hal-hal yang baik. Allah memberi kita mata agar kita dapat melihat hal-hal baik dan beraktivitas dengan baik dan lancar.

Di sisi lain, ada sebagian insan yang tidak diberi nikmat pengelihatan atau buta mata sehingga tidak dapat melihat dan menikmati indahnya dunia. Itulah yang dialami oleh Ibu MARDISIH, warga RT 03 / RW 04, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari. Hingga usia lansia yakni 63 tahun, beliau belum pernah menikah dalam kondisi terlantar.

Sabtu, 01 Maret 2014

KARENA DITABRAK LARI TAK BISA BERJUALAN LAGI


Ibu Patonah, seorang warga lansia, tinggal berdua bersama anaknya yang pertama, Choliq (58 tahun) di Jl. Tanah merah III-B Surabaya. Menempati rumah ukuran 4 x 10 m, Ibu Patonah termasuk salah satu Lansia sangat miskin. Untuk biaya hidup dan makan sehari-hari ia hanya menggantungkan pemberian baik dari anak-cucunya maupun tetangganya.

Sementara anaknya (Choliq) hanya bekerja sebagai tukang pijat, itupun jarang dilakukan. Kadang seminggu hanya sekali dengan penghasilan sekitar Rp.25.000,- per-pijat, selebihnya menganggur. Dengan penghasilan sebesar itu tentunya kehidupan kedua lansia tersebut tidak bisa dikatakan layak bahkan sangat jauh dari sejahtera. Untuk biaya hidup sehari-hari bersama ibunya, mereka berdua bergantung kepada anak dan cucu. Seringkali pula menerima bantuan dan pemberian dari para tetangga kanan kiri. Bantuan yang terkumpul digunakan untuk membayar listrik dan air. Bantuan lain dari Kelurahan berupa sembako murah untuk raskin berupa 15 kg beras.

Dulu ibu Patonah sebenarnya bisa hidup berkecukupan, sebab disamping beliau berjualan gado-gado di Platuk, dengan penghasilan sekitar Rp.70.000 per-hari, anaknya Choliq juga bekerja sebagai sopir dengan gaji Rp.700.000 per-bulan. Namun pada tahun 2007 ibu Patonah mengalami kecelakaan akibat tabrak lari sehingga ia tidak bisa bekerja lagi. Bahkan sampai saat ini untuk jalan saja ia harus pakai alat bantu berupa egrang.

Disusul kemudian anaknya Cholik juga mengalami sakit mata (katarak) yang berakibat ia harus pensiun sebagai sopir. Kini ibu Patonah mengalami nasib yang kurang beruntung, dengan hidup yang serba kekurangan. (Narko-RED).

KEBAJIKAN UNTUK UMAT

KEBAJIKAN UNTUK UMAT