Jumat, 14 Maret 2014

MUSLIM SEJATI HARUS MEMBELA KAUM YANG LEMAH

Islam sebagai ajaran agama yang utuh tidak menganjurkan pembiaran terhadap derita umat manusia lain dan hanya berkutat pada penyelematan diri sendiri tanpa mau tahu dengan sekitarnya. Islam justru menganjurkan agar umatnya senantiasa mengiringi peneguhan iman dengan praktik amal shalih berupa amal penyelamatan sosial. Pengertian iman saja sangat luas. Mencakup bagaimana ketika iman berfungsi maka harta, nyawa dan martabat manusia lain harus aman, terlindungi dan terjaga.

Setiap titik inti ajaran Islam, termasuk ibadah mahdlah selalu dimaksudkan agar memiliki manfaat sosial. Mulai dari dua kalimat syahadat yang mengisyaratkan orientasi kehidupan dunia dan akhirat, kemudian shalat yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam perdamaian ke arah kanan dan kiri (ke arah lingkungan sosial). Kemudian puasa di bulan Ramadlan yang menyadarkan akan perlunya solidaritas dengan memperbanyak sedekah. Zakat sangat jelas orientasi sosialnya dan ibadah haji yang dimaksudkan untuk napak tilas atau menjelajahi jejak spiritual Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam upaya pembebasan kemanusiaan universal.

Seorang Muslim yang baik dan berkualitas akan membuat orang lain terselamatkan nasibnya berkat ucapan dan tindakannya. Pemahaman terhadap ajaran Islam yang seperti ini sudah mulai menyebar, terutama di kalangan yang mau melakukan kajian terhadap semangat Islam dan bagaimana memfungsikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kajian sering ditemukan banyak sekali hal-hal baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. KH. Ahmad Dahlan, Bapak Pendiri Muhammadiyah, juga mengalami hal yang demikian. Ketika membaca berulang-ulang surat Al-Ma’un, KH. Ahmad Dahlan mendapat pencerahan bahwa surat itu tidak boleh hanya dihafal dan diulang-ulang membacanya. Tetapi harus dipraktikkan sebagai alat untuk membebaskan sesama manusia, khususnya mereka yang yatim dan miskin atau kelompok lemah dan dilemahkan.

Anak yatim harus disantuni dengan santun, orang miskin yang kelaparan harus diberi makan, penganggur diberi pekerjaan atau modal untuk usaha, orang sakit diobati dan orang-orang yang punya harta dianjurkan agar turut dalam gerakan sosial semacam ini. Kalau aksi nyata semacam ini tidak dilakukan maka yang membaca ayat itu boleh disebut sebagai pendusta agama.

KH. Ahmad Dahlan telah menemukan makna bahwa ayat-ayat Makkiyah adalah ayat inspiratif untuk melakukan perubahan dan perombakan sosial yang signifikan. Ia pun menyelenggarakan gerakan pengajian Wal ‘Ashri yang kemudian berubah menjadi gerakan penyadaran akan pentingnya pendidikan yang membebaskan manusia dari berbagai belenggu budaya maupun belenggu struktural.

Buya Ahmad Syafii Maarif, pemikir Islam senior yang dimiliki bangsa Indonesia pun pada hari tuanya tidak bosan-bosannya melakukan kajian kritis terhadap ajaran Islam dan terhadap pemahamannya sendiri tentang Islam. Ia mengisahkan bagaimana ketika di madrasah atau di pesantren dulu selalu diberi pemahaman bahwa ayat-ayat Makkiyah itu berisi tentang peneguhan iman belaka.

Ketika Buya Syafii kemudian membaca ulang ayat-ayat Al-Qur’an dalam surat Makkiyah ia menemukan makna sosial, bahkan makna perombakan sosial yang sangat mendasar. “Di masa Makkah, Al-Qur’an sudah berbicara tentang masalah-masalah kemanusiaan yang harus mendapat penyelesaian segera, tetapi terhalang oleh fakta karena kekuasaan politik masih tergenggam di tangan aristokrat Quraisy yang kaya dan pongah. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad tidak pernah melepaskan niatnya suatu saat untuk merebut kota Makkah, kota kelahirannya, demi tegaknya keadilan dan ajaran persamaan di antara manusia. Seperti kita maklum, dari Madinah-lah, strategi penaklukan itu diatur dan dilaksanakan dengan berhasil sekalipun harus melalui peperangan demi peperangan yang membawa korban banyak baik di pihak Muslim maupun di pihak musuh. Perjuangan untuk menegakkan keadilan di mana pun sepanjang sejarah pasti berat dan tidak ada yang gratis,” katanya pada suatu Pengajian Muhammadiyah.

Buya Syafii berpendapat, khusus untuk Muhammadiyah dan gerakan Islam lain dalam kaitannya dengan Indonesia yang masih melecehkan keadilan, Teologi Al-Ma’un haruslah dirumuskan dalam bingkai teori yang sistematis dan radikal berdasarkan pemahaman yang benar dan tulus terhadap Al-Qur’an dan karier Nabi yang fenomenal itu. Sampai sekarang kita belum mampu merumuskan kerangka teori yang memadai yang sepenuhnya didukung oleh data di lapangan, tetapi yang dibenarkan oleh iman dan secara ilmu dapat dipertanggungjawabkan.

Buya juga berpendapat, ayat-ayat Makkiyah adalah ibarat goncangan gempa bumi dengan skala tinggi yang demikian lantang berbicara tentang keadilan dan persamaan semestinya sudah sejak lama membangunkan kesadaran dan kepekaan nurani kita untuk tidak membiarkan Indonesia terkatung-katung tanpa kepastian peta masa depan seperti yang dideritanya selama ini. (sumber : www.lazismu.org).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KADO RAMADHAN

KADO RAMADHAN

Jadual Imsakiyah Ramadhan 1437 H

Jadual Imsakiyah Ramadhan 1437 H

AKSI BERSAMA LAZISMU

AKSI BERSAMA LAZISMU

Tanggap Bencana

Tanggap Bencana

CIMB NIAGA SYARIAH