Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Mei 2013

LIBURAN BERNUANSA DAKWAH BAGI ANAK KITA



Oleh : Drs.Andi Hariyadi, M.Pd.I

Setelah melaksanakan Ujian Nasional (UN) atau Ulangan Akhir Semester (UAS), tentunya anak merasa penat dengan beban pikiran dan emosional yang berat. Anak merasa lelah karena harus dituntut meraih target pendidikan demi tercapainya sebuah kesuksesan, baik kelulusan maupun kenaikan kelas.

Sebagai orangtua kadangkala merasa kasihan terhadap anak-anak yang harus menanggung beban berat di usia mudanya, sehingga ketika liburan tiba tidak ingin liburan anaknya terlewatkan tanpa makna. Maka sebagai keluarga muslim, seharusnya kita sudah menyiapkan sejak awal agenda liburan anak kita dalam bingkai religi (dakwah).

Barangkali ada yang bertanya, apa relevansi liburan dengan dakwah Islam? Secara sederhana alasannya adalah bahwa sebagai seorang muslim ruh ber-dakwah harus tetap digelorakan dimana-pun berada dan pada saat apapun. Misi dakwah itu tidak bisa kita lepaskan dalam setiap derap kehidupan, tinggal bagaimana menyajikan materi yang bisa diberikan agar sesuai dengan kondisi anak.

Rabu, 16 Februari 2011

GRAND DESIGN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA


Ali bin Abi Tholib pernah berpesan, ”Kebaikan yang tidak diorganisir dengan baik akan dengan mudah dihancurkan oleh kemungkaran yang diorganisir dengan baik.”

Melihat fenomena yang terjadi saat ini, pemerintah mulai tersadar dan perlu melakukan perbaikan. Banyak persoalan bangsa yang perlu diselesaikan, terutama yang menyangkut perilaku. Untuk itulah mulai tahun 2010 pemerintah mencanangka pendidikan karakter. Bahkan dalam Kementerian Pendidikan Nasional disampaikan bahwa pendidikan karakter ini menjadi program unggulan pemerintah tahun 2010 sampai 2015. Begitu seriusnya, ada 16 kementerian yang dilibatkan dalam pembangunan karakter bangsa.

Latar Belakang

Pertama, nilai budaya bangsa mulai memudar. Julukan bangsa yang santun telah menjauh dari negeri tercinta ini. Begitu mudahnya masyarakat kita diadu domba. Para pelajar dan mahasiswa yang notabene kaum cendekia sering melakukan tindak anarkhi. Begitu juga para pejabat yang kalah dalam berebut kekuasaan, melakukan tindak yang tidak terpuji. Inilah yang kemudian memicu munculnya disintegrasi bangsa.

Kedua, nilai-nilai kehidupan sudah bergeser. Budaya malu berbuat jelek hampir pudar. Dulu jika ada muda mudi yang mau berduaan terasa malu. Justru saat ini kita malu ketika melihat remaja berduaan. Bahkan kebih dari itu, untuk berbuat asusila seolah menjadi bebas. Lebih memprihatinkan bahwa tidak sedikit pejabat yang terkena razia dengan kasus amoral. Inilah fenomena yang sering dijumpai.

Persoalan yang tidak kalah serunya adalah tentang korupsi. Korupsi di Indonesia telah menduduki rangking atas, berkutat pada urutan ketiga sampai kelima. Kasus terbaru yang menjadi perbincangan serius adalah ”Gayus”. Kasus ini menjadi potret buram pemerintahan saat ini.

Narkoba yang jelas-jelas telah menghancurkan masa depan anak bangsa begitu nyata. Bahkan di negeri tercinta telah menjadi tempat memproduksi benda yang berbahaya itu. Jaringan narkoba dibangun mulai internasional dan mengakar sampai pelajar.

Pergeseran nilai itu muncul karena kemungkaran telah diorganisir dengan baik. Kasus amoral, korupsi, dan jaringan narkoba begitu diminij dengan baik. Seolah-olah tidak ada, tetapi fakta begitu menggurita hingga menjadi ancaman masa depan anak bangsa. Sementara yang namanya kebaikan hanya ada di mimbar-mimbar, belum diminij dengan baik. Begitu di pasar, di gedung-gedung kehormatan, di jalan-jalan kembali masuk dalam perangkap setan.

Ketiga, melemahnya kemandirian bangsa. Dalam banyak hal, bangsa kita telah dinilai kurang mandiri. Banyak ketergantungan pada negara lain. Bahkan kewibawaan bangsa ini mulai memudar di mata dunia. Persoalan ini pun diikuti oleh anak-anak remaja. Anak-anak kita saat ini kurang tangguh, kurang mandiri, dan banyak bergantung pada yang lain.

Keempat, keterbatasan perangkat. Belum dijumpai manajemen kebaikan yang efektif dalam menanggulangi persoalan bangsa, baik kasus amoral, korupsi, narkoba, maupun perilaku buruk lainnya.

Melihat problem begitu komplek maka dibutuhkan pendidikan karakter yang dibangun lewat pendidikan dengan melibatkan semua pemangku kepentingan. Inilah bentuk manejemen kebaikan untuk bisa menghalau kemungkaran yang saat ini teleh diminij dengan baik.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter:

Pendidikan karakter telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) pemerintah tahun 2005 hingga 2025. Tahun 2010 sampai 2015 pendidikan karakter menjadi program unggulan. Tahun 2012 diharapkan 25% sekolah di Indonesia bisa menerapkan pedidikan karakter. Untuk tahun 2015 diharapkan semua sekolah telah melaksanakan pendidikan karakter. (Media Indonesia)

Ada empat karakter yang dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Pertama olah hati, yaitu mengembangkan aset yang terkait dengan Tuhan (hablum minallah) sehingga bisa bekerja dengan ikhlas. Kedua olah rasa/karsa, yaitu mengembangkan aset yang terkait dengan hubungan antar sesama (hablum minannas). Ketiga olah pikir, yaitu mengembangkan aset yang terkait dengan akal agar bisa berfikir jernih dan cerdas. Keempat olah raga, yaitu mengembangkan aset fisik agar selalu sehat dan bisa bekerja dengan keras.

Pendidikan karakter bukanlah materi khusus dan bukan hanya tanggung jawab guru agama dan PPKn. Pendidikan karakter menjadi tanggung jawab semua pemangku kepentingan. Semua guru terlibat dalam mengawal pendidikan karakter.

Minimal ada empat hal dalam pengembangan pendidikan karakter. Pertama, pendidikan karakter terintegrasi dalam semua mata pelajaran. Tentunya akan bisa dilihat dalam lesson plan karena lesson plan adalah standar operasional pelaksanaan (SOP) guru dalam proses pembelajaran. Kedua, pendidikan karakter terbangun dalam budaya sekolah. Ketiga, pendidikan karakter terlihat dalam kegiatan ekstra kurikuler. Keempat, membangun sinergi sekolah dan rumah dalam mengawal perilaku mulia pada anak.

Strategi Pendidikan Karakter:

Ada beberapa strategi yang dilakukan pemerintah dalam membangun pendidikan karakter. Pertama, adanya sosialisasi baik di media maupun ke semua instansi untuk penyadaran akan pentingnya pendidikan karakter. Kedua, pengembangan melalui pendidikan, baik formal, non formal, maupun informal. Ketiga, metode yang digunakan adalah intervensi regulasi, pelatihan, workshop, seminan, dan pembiasaan. Keempat, pembedayaan semua pemangku kepentingan (orang tua, sekolah, ormas, dsb.) agar berperan aktif dalam pendidikan karakter. Kelima, Pembudayaan berkarakter dibina dan dikuatkan dengan penanaman nilai-nilai kehidupan agar menjadi budaya. Keenam, membangun kerjasama sinergi antara semua pemangku kepentingan.

NAJIB SULHAN M.A
Penulis dan Trainer Pendidikan Berbasis Karakter
Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya & Dewan Redaksi Majalah LAZISMU Surabaya

Kamis, 25 November 2010

PENGARUH SHALAT BERJAMAAH PADA KEJIWAAN ANAK

Perbedaan antara Perguruan Negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah dan Perguruan Swasta salah satunya hanyalah terwujud dengan kemungkinan adanya ciri-ciri khas satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh penyelenggara pendidikan yang bersangkutan. Misalnya Muhammadiyah, Taman Siswa dan lainnya.
Di lingkungan Perguruan Muhammadiyah sendiri, ciri khas pendidikan tersebut diantaranya diwujudkan dalam bentuk pengalaman ibadah, yaitu berupa shalat berjamaah di sekolah. Hal ini dimaksudkan disamping penanaman nilai-nilai illahiah, agar kondisi fisik maupun psikis dari anakl dapat normal kembali, sekaligus mencegah timbulnya perilaku agresif dari siswa yang umumnya masih remaja. Bukankah kita sering mendengar, membaca bahkan kadang menyaksikan sendiri anak-anak (remaja) melakukan tindak kejahatan, seperti penganiayaan, pemerkosaan, pencurian, perkelahian masal dan masih banyak lagi jenis kejahatan lain. Sementara berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, toh usaha tersebut belum juga membawa hasil yang memuaskan.

SHALAT BERJAMAAH
Dr. M. Usman Najati, dalam bukunya yang berjudul “Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa” mengatakan bahwa terminologi shalat mengisyaratkan adanya hubungan antara manusia dan Tuhan-Nya. Dengan shalat, manusia dapat mengerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Allah, berpaling dari semua kesibukan dan problem dunia serta tidak memikirkan sesuatu kecuali Allah dan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya. Keterpalingan penuh dari berbagai persoalan dan problem kehidupan dan tidak memikirkannya selama shalat dengan sendirinya akan menimbulkan pada diri manusia terutama anak keadaan tentram, jiwa yang tenang dan pikiran yang bebas dari beban.
Lebih lanjut Najati (1985) menambahkan bahwa shalat berjamaah juga mempunyai dampak terapeutik yang signifikan. Karena dengan seringnya seseorang pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat akan memberikan kesempatan baginya untuk berkenalan dengan para tetangga dan lingkungannya. Ini membantunya dalam berinteraksi dengan orang lain dalam bentuk hubungan-hubungan sosial yang sehat.
Kedua pendapat diatas, diperjelas oleh Dr. Mukti Ali (1992) bahwa pendidikan agama penting artinya dalam kehidupan seseorang termasuk ibadah shalat, karena akan menjadi pedoman dalam segala tingkah dan perbuatannya. Bahkan Allah Swt sendiri berfirman dalam surat Al-’Ankabuut ayat 45 yang artinya “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar”.
Oleh karena itu, seorang Mukmin dengan penuh kesadaran akan senantiasa memperhatikan waktu-waktu shalatnya. Disamping itu ia akan menegakkannya di tempat-tempat yang suci lagi disucikan. Lebih-lebih bila shalat tersebut dilaksanakan secara berjamaah. Sebab dengan berjamaah selain kita dapat saling mengenal satu sama lain juga dapat mempererat ukhuwah Islamiyah kita sebagai umat beragama yang terbesar di negeri tercinta kita ini dan selalu menjadi contoh bagi umat-umat lain. Maka shalat seperti inilah yang akan menjadi perisai untuk menggapai kemenangan yang sesungguhnya yaitu hancurnya yang mungkar dan tegaknya yang makruf. Sebagaimana Allah Swt. menetapkan dalam firmanNya bahwa “Shalat merupakan sarana amar makruf nahi mungkar, sebagai penolong dan alat kontrol bagi Mukmin agar bersabar terhadap segala bencana dan mara bahaya yang senantiasa datang sebagai ujian atas keimannya”.

KEJIWAAN ANAK
Seperti diuraikan di muka bahwa dengan shalat, manusia dapat mengerahkan seluruh jiwa raga terhadap Allah, berpaling dari semua kesibukan dan problem dunia serta tidak memikirkan sesuatu kecuali Allah dan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya, maka dengan sendirinya shalat mampu menjadi alat kontrol perilaku manusia untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Sehingga yang ada hanyalah itikad baik yang akhirnya melahirkan perilaku, sikap serta respon yang positif. Oleh karenanya dengan membiasakan anak bershalat jamaah baik di sekolah maupun di rumah akan membentuk pribadi yang kokoh, jiwa yang tenang dan pikiran yang bebas dari beban sehingga kecil kemungkinannya anak akan berbuat sesuatu yang kurang atau tidak bermanfaat apalagi merugikan orang lain karena mereka (anak) sadar bahwa dirinya juga tidak ingin diperlakukan hal yang serupa.

CHOIRUL AMIN
Pemerhati Masalah Pendidikan Anak
tinggal di Surabaya Timur

KADO RAMADHAN

KADO RAMADHAN

Jadual Imsakiyah Ramadhan 1437 H

Jadual Imsakiyah Ramadhan 1437 H

AKSI BERSAMA LAZISMU

AKSI BERSAMA LAZISMU

Tanggap Bencana

Tanggap Bencana

CIMB NIAGA SYARIAH