Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiah. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2015

KERJA KERAS, CERDAS DAN IKHLAS

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak malas dan berpangku tangan. Dengan kata lain umat Islam harus bekerja demi mencapai apa yang diinginkan dan diharapkannya, baik dalam dimensi dunia maupun akherat. Bekerja secara profesional merupakan bidang kegiatan yang dijalani setiap orang sesuai dengan keahliannya yang menuntut kesetiaan (komitmen), kecakapan (skill), dan tanggung-jawab yang sepadan sehingga bukan semata-mata urusan mencari nafkah berupa materi belaka. Oleh karena itu setiap muslim dalam memilih dan menjalani profesinya di bidang masing-masing hendaknya senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kehalalan (halalan) dan kebaikan (thayyibah), amanah, kemanfaatan, dan kemaslahatan yang membawa pada keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Tentunya dalam menjalani profesi dan jabatan dalam profesinya hendaknya menjauhkan diri dari praktik-praktik korupsi, kolusi, nepotisme, kebohongan, dan hal-hal yang batil lainnya yang menyebabkan kemudharatan dan hancumya nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan kebaikan umum. Menjalani profesi juga harus dilakukan dengan sepenuh hati dan kejujuran sebagai wujud menunaikan ibadah dan kekhalifahan dbekeri muka bumi ini. Maka dari itu dalam menjalani profesi hendaknya sesama rekan sekerja mengembangkan prinsip bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan serta tidak bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.

Kaum muslim di mana pun dan apapun profesinya hendaknya pandai bersyukur kepada Allah di kala menerima nikmat serta bershabar serta bertawakal kepada Allah manakala memperoleh musibah sehingga memperoleh pahala dan terhindar dari siksa. Rasa syukur itu hendaknya diwujudkan dengan menunaikan kewajiban kepadaNya, yakni beribadah (shalat, puasa, dan sebagainya) secara ikhlas, tawadhu’ dan berserah diri sepenuh hati. Umat Islam juga berkewajiban membayar zakat maupun mengamalkan shadaqah, infaq, wakaf, dan amal jariyah lain dari penghasilan yang diperolehnya serta tidak melakukan helah (menghindarkan diri dari hukum) dalam menginfaqkan sebagian rejeki yang diperolehnya itu.

Bekerja berarti mendayagunakan tubuh kita ini mulai dari otak hingga kaki. Oleh sebab itu bekerja tidak hanya sekedar bekerja keras dengan otot, namun juga bekerja cerdas dengan berpikir memutar otak serta bekerja ikhlas dengan hati yang jujur, bersih dan senantiasa berlapang dada. Sehingga kerja-kerja kita akan berbuah karya gemilang yang mencerahkan dan prestasi yang membanggakan. (dari berbagai sumber).

(Aditio Yudono, Sekretaris Lazismu Surabaya).

Senin, 25 Agustus 2014

MENUJU SURGA DENGAN AMALAN YANG ISTIQOMAH

"Meraih Surga dengan Istiqomah Melestarikan Amalan Ramadhan dalam Kehidupan Sehari-hari", itulah tema Pengajian Pencerah yang disampaikan ust. DR. Saad Ibrahim (Wakil Ketua PWM Jatim), hari ahad pagi tanggal 24 Agustus 2014 di Hall Gedung Dakwah Muhammadiyah Surabaya.

Dalam ceramahnya DR Saad Ibrahim menghimbau kepada para hadhirin khususnya generasi muda agar berani tampil di depan, sebab hanya orang yang berani tampil di depanlah yang akan siap memimpin kehidupan di masa mendatang. Beliau juga mengajak agar mempunyai impian dan cita-cita yang baik untuk membangun masa depan, baik di masyarakat, bangsa dan negara. Sebagai contoh adalah Lie Kuan Yew (man Perdana Menteri Singapura). Sebelum menjadi Perdana Menteri (PM) Singapura ia sudah mempunyai mimpi yang baik dan besar. Singapura, setelah berpisah dengan Malaysia, lalu menjadi negara merdeka. Walau Singapura sudah dikenal sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara waktu itu, namun sebagian besar wilayahnya adalah kawasan yang kotor, kumuh dan penduduknya tidak teratur. Setelah Lie menjadi PM dia gambarkan cita-cita besarnya dengan mencetak kartu pos yang dikirim ke seluruh warga bangsanya. Lie mengirim kartu pos yang terdapat gambar pemandangan dengan pohon yang subur dan indah, sungai yang jernih, orang-orang berpakaian rapi dan anak-anak yang ceria, yang semua itu simbol kehidupan di surga yang dilukiskan Allah dalam kitab Al-Qur’an. Nah, 30 tahun kemudian, Singapura menjadi negara maju yang indah, asri, jernih dan bersih serta makmur.

Jumat, 15 Agustus 2014

JANGANLAH KITA KUFUR DENGAN NIKMAT KEMERDEKAAN


Oleh : Sunarko SAg (Bendahara LAZISMU)

Kata rahmat menurut pengertian bahasa, sebagaimana di jelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah : kasih sayang, kerahiman, karunia (Allah), yakni kasih sayang atau karunia Allah yang dilimpahkan-Nya yang merupakan kenikmatan batin dan kepuasan ruhaniyah yang diraih degan cara yang tidak ringan dan mudah. Oleh karena itu setiap apa saja yang berupa kenikmatan, kesenangan, keberuntungan, kemenangan, kebebasan, kemerdekaan, kelapangan dan lain-lannya, semua itu adalah termasuk kategori rahmat.

Rahmat adalah merupakan nikmat yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Jika dikaitkan dengan kemerdekaan Negara kita, maka kemerdekaan itu dirasakan sebagai satu rahmat ilahi, sekaligus nikmat yang demikian besar yang patut disyukuri.

Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu ingkar, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim, ayat 7).

MENSYUKURI NIKMAT

Bersyukur kepada Allah SWT itu adalah kewajiban ummat manusia, mengingat banyaknya karunia dan nikmat yang telah diberikan-Nya. Alangkah jahilnya orang yang tidak menghitung dan memperhatikan kurnia Tuhan kepadanya, mulai dari kebutuhan yang paling kecil, sampai kepada yang paling besar, pada hakekatnya semua itu datang dari Allah SWT. Begitu besarnya nikmat yang diberikan kepada manusia, sehingga kalau kita mau menghitung nikmat Allah tentu kita tidak akan pernah sanggup untuk menghitungnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. An-Nahl, ayat 18).

Perintah mensyukuri nikmat merupakan ajaran Islam yang sangat mudah dicerna secara logika. Sebab bersyukur itu mengisyaratkan ungkapan rasa puas dengan apa yang telah diperoleh dan dicapai. Ungkapan rasa puas itu merupakan penghayatan atas nikmat. Dan menghayati nikmat itu sendiri tidak lain adalah menikmati rahmat yang telah diperoleh itu sehingga akan terasa nikmat.

Sabtu, 28 Juni 2014

DERAJAT TAQWA YANG SEBENAR-BENARNYA

Oleh : Abdul Hakim, M.Pd.I (Wakil Ketua Lazismu Surabaya)


Kaum Muslimin yang dirahmati Alloh! Kita bersua lagi dengam bulan suci Romadlon. Senyum dan semerbak harum aromanya tentu sudah menyelinap dan menyentuh relung kesadaran kita. Ya, tamu agung itu akan segera mengetuk pintu-pintu qolbu orang beriman yang mukallaf, mengajaknya mereguk beragam keutamaannya. Dengan puasa di bulan yang penuh rahmat ini, Alloh dalam Q.S. Al-Baqoroh ayat 183, berjanji akan menganugerahkan mahkota taqwa. “Wahai orang mukmin diwajibkan atas kalian berpuasa … agar kalian menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.”

Taqwa, seperti ditegaskan dalam Q.S. Al-Hujurot 13 adalah mahkota kehormatan dan kemuliaan tertinggi. Taqwa adalah indikator ketaatan seorang abdi kepada Alloh SwT dan Rosul-Nya. Ketaatan tulus, bukan terpaksa atau basi-basi. Ketaatan tulus itu dilakukan seorang mukmin demi mengagungkan, kebesaran memuji, memuliaan-Nya yang tak terhingga. Ketaatan yang kita lakukan karena kita tahu, Alloh-lah Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Pencipta, Maha Berilmu, Maha Suci, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah menganugerahkan nikmat tak terhingga, tak terhitung, dan tak terukur nilainya. Ya, bukankah bumi, langit, matahari, bulan, bintang, flora dan fauna ini dicipta untuk “memanjakan” manusia? Ketaatan tulus itu kita tunaikan dengan tawadhu' sebagai wujud syukur lahir-batin. Ketaatan tulus itu memang harus terus kita lakukan demi memenuh komitmen hablun minalloh dan hablun minannas.

Senin, 17 Maret 2014

NABI Sang Pemimpin Agung

Oleh : Abdul Hakim, M.Pd.I

Harus disadari, dunia kini tengah dilanda krisis pemimpin dan kepemimpinan. Pemimpin dan kepemimpinan menjadi biang konflik dan krisis. Pemimpin menjalankan fungsi kepemimpinan nafsi-nafsi, bahkan bebas nilai. Kepemimpinan dipandang sebagai sumber gelimang materi dan gengsi. Demi mendapatkan status sebagai pemimpin, tidak jarang orang menerapkan strategi katak berenang. Ke atas menjilat, kesamping menyikut, ke bawah menginjak. Demi meraih status “pemimpin” orang berani menempuh dan menghalalkan segala cara. Di antaranya dengan membangun konspirasi, memanipulasi fakta diri, atau menebar janji dan mimpi. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah buah kepemimpinan bodong dan sesat ini.

Padahal, pemimpin dan kepe-mimpinan adalah sunnatulloh. Alloh SWT memilih manusia untuk menjadi khalifah untuk menegakkan kebenaran dan keadil-an demi keselamatan, kemaslahatan, kemuliaan dan kebahagiaan universal. Pe-mimpin dan kepemimpinan adalah kebu-tuhan absolute, prinsip dan fundamental. Sebuah hadis sahih menegaskan, “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.”

Maka di tengah kerinduan akan sosok pemimpin, umat Islam sesungguhnya sudah sejak lama memiliki sosok pemimpin agung, yakni Rosululloh Muhammad SAW. Kekaguman dunia terhadap sosok nabi akhir itu tidak hanya dinyatakan para saksi terdekat, keluarga, sahabat, maupun para tokoh muslim. Decak kagum itu secara jujur telah disampaikan oleh para inelektual nonmuslim seperti dikutip oleh Dr. Syafii Antonio dalam Muhammad SAW The Super Leader Super Manajer.

“Orang-orang hebat itu seratus jumlahnya dan yang paling hebat adalah Muhammad,” Michael H. Hart, penulis Seratus Tokoh Paling Berpengaruh.

Rabu, 07 Agustus 2013

MERDEKA!!


Kembali Fitri, Lepas dari Belenggu Nafsu Duniawi

Oleh : Najib Sulhan, MA.

"Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang mengurai-ngurai benang rajutannya yang telah kukuh dibuatnya" (QS. An-Nahl 92).

Bulan Ramadhan 1434 hijriyah yang penuh berkah, rahmat, ampunan telah bergerak meninggalkan ummat Islam. Banyak kenikmatan yang harus terus disyukuri dan dijaga pelaksanaannya. Kenikmatan itu dirajut hingga menjadi hiasan diri dan perisai diri dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan, itulah ketaqwaan hakiki.

Rabu, 29 Mei 2013

SHOLAT, MAHKOTA IBADAH PARA NABI



Oleh : Abdul Hakim, M.Pd.I

Manusia memang telah diplot untuk hanya mengabdi atau menghamba kepada Alloh SwT sebagai tugas hidup utama. “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi kepada-Ku,” demikian firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat, ayat 56. Demi menyambut seruan itu, seorang mukmin akan selalu beikrar,”Iyyaka na'budu … atau Hanya kepada-Mu, kami mengabdi …” Ikrar ini paling tidak akan diulangnya tujuh belas kali sehari-semalam dalam ibadah sholat lima waktu. Seorang mukmin pasti sadar bahwa hidup adalah totalitas penghambaan, pengabdian, ketaatan, atau ketundukan kepada-Nya, Alloh Yang Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Mengatur, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk menghamba kepada Alloh, Tuhan semesta alam!”

Jumat, 08 Februari 2013

JADILAH GHONI YANG MUZAKKI

Oleh : Syamsun Aly, M.A.

”...dan apa yang kamu berikan berupa ZAKAT yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (harta/pahala mereka).”

Setiap manusia yang hidup di dunia ini tentu menginginkan serba berkecukupan atau menjadi orang kaya (GHONI). Karena dengan kekayaan dia bisa terpenuhi segala yang dicita-citakan. Keinginan memiliki harta berlimpah itu muncul setelah ia memperoleh pasangan hidup dan keturunan yang ia dambakan (lihat penjelasan QS. Ali Imran : 14).

Syahwat untuk menjadi orang kaya (Ghoni) itu, juga diterangkan oleh Allah dalam surat at-Takatsur, dan al-Humazah, yakni hidup penuh kemewahan serta gemar menumpuk harta dan menghitungnya, karena beranggapan bahwa ia akan kekal bersama hartanya.

Nabi Muhammad saw juga menyinggung tentang kerakusan manusia terhadap harta benda, yang tidak pernah ada puasnya itu dalam sebuah hadits : ”Seandainya anak Adam (manusia) itu memiliki dua lembah emas, niscaya dia akan lebih senang jika memiliki 3 (lembah emas), dan tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya (memuaskan dirinya) selain tanah (liang kubur).” Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Ibnu hibban. 

Jumat, 11 Januari 2013

FILOSOFI DIBALIK PERINTAH BERDERMA



Oleh : Ahmad Syafii Ma'arif

Islam adalah agama yang punya kepedulian sosial yang sangat tinggi, sekalipun umatnya sering benar-benar menyimpang dari prinsip ini. Dalam kajian saya menemukan bahwa Islam sangat pro orang miskin, tetapi pada waktu yang sama bersikap anti kemiskinan.

Tampaknya kesimpulan yang semacam ini seperti mengandung sebuah paradoks, sebenarnya tidak begitu. Mengapa? Karena dalam Al-Qur'an tidak ada perintah agar orang menerima zakat, infaq dan shodaqoh. Justru yang diperintahkan adalah agar mengeluarkan zakat, infaq dan shodaqoh. Artinya orang miskin haruslah bersifat sementara, mereka tidak boleh dan tidak layak berlama-lama berkubang dalam kemiskinan, kelemahan dan hidup dibawah belas kasihan orang lain.

Oleh sebab itu kemiskinan haruslah dihalau sampai kebatas-batas yang jauh, sehingga manusia meraih kemerdekaan dan martabat sejati sesuai posisinya sebagai khalifah Allah dimuka bumi. Namun sepanjang sejarah umat manusia, kemiskinan adalah sebuah realitas, maka masalah zakat, infaq dan shodaqoh akan tetap relevan untuk dikaji, agar lebih berdaya guna, sebagaimana yang akan kita telusuri lebih jauh.

Selasa, 06 November 2012

BERHAJILAH DI USIA MUDA

Oleh : Syamsun Aly, M.A.
     Hari Rabu 26 September 2012 lalu, rombongan KBIH Muhammadiyah Surabaya berangkat ke tanah suci untuk menunaikan rukun Islam ke lima. Calon jamaah haji yang tergabung dalam KBIH berlambang matahari itu terbang dari Juanda pukul 12.05 WIB. menuju kota Madinah. Alhamdulillah sesuai dengan rencana, seluruh jamaah dalam kloter 15 itu tiba di bandara Madinah dengan selamat, setelah mengarungi perjalanan 9,5 jam di udara.
     Suhu panas udara yang mencapai kisaran 40 derajat celcius, tidak menjadi masalah bagi calon jamaah haji karena terpesona oleh indahnya  kota madinah di malam hari. Terutama gemerlapnya lampu-lampu hias di berbagai menara masjid nabawi nan sangat indah dan megah, serta berbagai hotel berbintang di sekitarnya.
     Di balik semua itu, ada satu peristiwa yang cukup memusingkan ketua kloter serta para ketua rombongan yang ada di dalamnya usai tiba di kota Madinah. yakni raibnya seorang jamaah haji asal Tuban Jawa TImur  yang kebetulan satu koter dengan KBIH Muhammadiyah, selama 3 hari 3 malam.
     Sebelum menghilang, kakek tua yang  pernah penulis temukan di ruang resepsionis hotel (maktab kloter 15) itu,  mengenakan seragam batik haji indonesia dan celana pendek. Pikiran saya mungkin dia jamaah yang tersesat. Namun setelah saya tanyai nama dan asalnya, tiba-tiba dia menjawab “ nok kono wonge uuuakeh”  (di sana orangnya sangat banyak). Saya lalu berfikir mungkin orang ini sudah pikun kali ya, kok nggak nyambung  sama sekali, dan ternyata benar.

Rabu, 10 Oktober 2012

SELALU BERSYUKUR & HINDARKAN DARI KERUSAKAN

Oleh : Abdul Hakim, M.Pd.I
     Pembaca yang budiman, Alloh telah menciptakan manusia dari saripati tanah, kemudian menempatkannya di tempat yang kokoh, yakni di rahim bunda. Dari saripati tanah  itu, Alloh menjadikannya segumpal darah. Atas izin-Nya pula darah itu bergembang menjadi segumpal daging. Dari segumpal daging jadilah tulang-belulang, sebelum kemudian dibungkus kembali dengan daging, dan meniupkan ruh-Nya. Sampai kemudian Alloh menjadikannya sosok makhluk sempurna, bahkan paling sempurna di antara seluruh makhluk-Nya. Alloh menganugerahkan beragam organ potensial : qolbu, akal, nafsu dan jasmani. Alloh menganugerahkan kehidupan untuk masa tertentu. Dari rahim lahirlah bayi, tumbuh menjadi remaja, berkembang jadi pemuda, dewasa, tua, sampai kemudian Alloh  menariknya dari predaran hidup di dunia.

Kamis, 06 September 2012

THE MIRACLE OF SYAHADAT


Oleh : Abdul Hakim, M.Pd.I.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Q.S. Thoha 14).
          Islam adalah agama tauhid. Seluruh ajaran Islam yang terangkum dalam Alquran dan Hadis hanya memiliki satu pesan utama, yakni pesan tauhid. Kalimat tauhid yang menjadi inti aqidah Islam adalah  “La ilaha illa Alloh, Muhammadun Rosululloh”. Tidak ada Tuhan selain Alloh, Muhammad itu Rosul Alloh. Seseorang yang ingin menegaskan keislamannya harus melalui pintu utama ini, dengan berikrar membaca dua kalimat syahadat,  “Asyhadu an la ilaha illa Alloh, wa asyhadu anna Muhammadan Rosululloh”. “Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Alloh! Dan, aku bersaksi, sungguh Muhammad itu adalah Rosul Alloh.” Seorang muslim mukallaf  harus mengulang kalimat ikrar ini  minimal sembilan kali sehari semalam pada sholat lima waktu.
  Sungguh mudah dan begitu sederhana tampaknya sepotong kalimat ini. Setiap orang dapat dengan cepat dan akurat mengucapkannya. Tetapi, kalimat ikrar singkat  ini ternyata mengandung pesan  tersurat, padat, berat,  dan penuh konsekuensi.

Sabtu, 07 Januari 2012

TAHUN BARU, TITIK AWAL MENUJU PERUBAHAN

Oleh : SUNARKO, S.Ag,

WAKTU selalu berjalan. Tanpa kita sadari tahun baru 2012 sudah tiba. Itu berarti satu tahun lagi umur kita bertambah, sekaligus berkurang pula jatah usia hidup kita di dunia. Semakin jauh kita dari kelahiran, semakin dekat dengan datangnya ajal (kematian). Maka kita wajib selalu berdzikir dan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Do’a panjang usia, kerap kita ucapkan selayaknya kita niatkan untuk dipergunakan berbuat kebaikan, beribadah dan menabung amal saleh sebanyak mungkin.

Memasuki Tahun Baru 2012 ini, marilah kita bermuhasabah (introspeksi), melakukan perenungan agar bersikap lebih dewasa. Kitapun mengenang kembali segala perbuatan yang kita lakukan sepanjang tahun 2011 agar jangan sampai kita memasuki tahun baru dengan kualitas kehidupan yang lebih buruk./

Bekal Utama Memasuki Tahun Baru

Begitu banyak ujian berat yang dihadapi bangsa ini. Musibah bertubi-tubi terus menimpa negeri ini baik musibah alam, musibah ekonomi , musibah politik dan sebagainya. Dampak dari krisis Multidimensional yang awali dari ekonomi sejak pertengahan tahun 1997 hingga kini telah menjadikan negeri ini mengalami problem besar, antara lain : Pengangguran, kemiskinan dan Hutang. Maka, sekali lagi, marilah kita merenung (mengadakan perhitungan) serta melakukan instrospeksi diri mengenai kehidupan yang telah kita lalui. Jangan pernah kita mengulang kesalahan dengan terus berbuat maksiat di muka bumi ini, jika tidak menginginkan bencana lebih dahsyat yang akan ditimpakan kepada bangsa kita. Sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Isro’, ayat 16 : “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka kami perintahkan pada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah). Tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Allah) kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya”.

Tahun Baru, Semangat Baru

Tahun baru merupakan titik awal menuju perubahan, tentunya perubahan kearah yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda : “Man kana yaumuhu khoiron min amsihi fahuwa robih, waman kana yaumuhu misla amsihi fahuwa Maghbun, waman kana yaumuhu sarron min amsihi fahuwa mal’un. Artinya “Barang siapa yang hari ini lebih bagus daripada hari kemarin maka ia beruntung. Dan barangsiapa yang hari ini keadaanya sama dengan buruk daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang buntung (celaka)." (Al-Hadits).

Kita telah menyaksikan pemandangan memilukan setiap menjelang pergantian tahun dimana berbagai bentuk kemaksiatan seakan menjadi sebuah kelaziman mengiringi penantian datangnya tahun baru. Sebagian masyarakat merayakan pergantian tahun dengan pesta pora. Mulai remaja sampai orang tua. kegiatannya sebenarnya tidak terlalu jelas manfaatnya. Bagi kalangan berduit mereka menghabiskan berjuta-juta uangnya demi malam yang bersejarah di tempat-tempat maksiat. Mereka memesan tiket tempat hiburan jauh hari walaupun dengan biaya yang sangat mahal. Sementara bagi mereka yang berkantong tipis merayakan acara ini secara sederhana di jalan-jalan, dilorong-lorong dimana saja sambil menghabiskan berbotol-botol minuman keras, berliter-liter tuak diiringi hentakan musik yang memekakkan telinga tanpa mau tahu keadaan masyarakat sekitar yang sulit tidur akibat ulah mereka. Sungguh ini perbuatan yang tidak bermanfaat. Peringatan Allah SWT dalam Surat Al-Isro' ayat 27 : "Sesungguhya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada tuhannya."

Bagaimana kita bersikap optimis dan sukses menghadapi tahun baru, jika awal tahun baru disambut dengan perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Bukankah lebih baik sekiranya kita menyambut kedatangan tahun baru dengan meningkatkan Muhasabah diri. Muhasabah diri perlu kita tingkatkan karena bagi seorang muslim yang namanya Introspeksi tidak hanya pada momen tahun baru, bahkan setiap saat Muhasabah (introspeksi) ini harus selalu menyertai dirinya. Umar Bin Khathab mengatakan : Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.

Karenanya sebagai pribadi Muslim mari kita mulai dari diri kita, kita ajak kerabat kita untuk lebih lebih arif dalam menyikapi setiap pergantian tahun baru. Jangan sampai kita ikut-ikutan berhura-hura saat menyambut penantian malam tahun baru. Sebab, prilaku hura-hura tersebutlah yang bisa merusak dan meruntuhkan sebuah negara. Sebab tegak runtuhnya sebuah negara sangat bergantung pada akhlak semua rakyatnya. Bila sebuah negeri masih dipenuhi orang-orang yang terus berbuat kemungkaran, maka tunggulah masa kehancurannya. Dan bila demikian halnya maka mustahil rasanya bisa menciptakan masyarakat adil dan makmur. Fakta membuktikan 66 tahun lebih bangsa kita merdeka, membangun, walau Allah telah memberi kekayaan alam (SDA) yang melimpah, masih saja bangsa kita belum terbebas dari problem besar: Pengangguran, Kemiskinan, hutang dan sebagainya. Hal ini menjadi tugas pemerintah bersama-sama dengan masyarakat untuk mencari solusi penyelesaiannya. Sebab, kalau pemerintah tidak sigap dan kerja keras mencari solusi penyelesaian, tentu akan sangat membebani anak cucu kita sebagai generasi penerus. Agar kondisi Indonesia tidak semakin terpuruk, satu-satunya jalan adalah bertaubat kepada Allah untuk tidak mengulangi maksiat kepada Allah. Disamping terus meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT sebagai modal utama membangun kembali Indonesia baru. Bila semua kita upayakan dengan sungguh-sungguh, kita wajib optimis dapat mewujudkan impian memiliki negeri yang adil dan makmur, negeri yang Baldatun Tyoyyibatun wa Rabbun Ghofur. Insya Allah. Amiin Yaa Rabbal 'Alamin

____________________________________________________________

SUNARKO, S.Ag, Bendahara LAZISMU Jejaring Surabaya.

Rabu, 13 April 2011

MENDIDIK MANUSIA MENJADI KHALIFAH


Manusia memang makhluk pilihan. Allah menciptakan dan memilih manusia untuk menjadi khalifah. Tugas kekhalifahan adalah tugas kepemimpinan. Setiap manusia adalah pemim-pin! Amanat besar ini seakan menegaskan, hanya manusia yang bisa memimpin. Makhluk lain tidak akan bisa menjalankan amanat ini.

Sungguh berat! Sebab, tugas ini adalah tugas kenabian. Semua nabi mengemban tugas ini. Maka, semua nabi, terlebih Nabi Muhammad SAW, adalah model sukses menjalankan tugas kekhalifahan ini. Demi tugas itu, Al-Quran menegaskan,”Dan Kami tidaklah mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”

Tugas kekhalifahan adalah tugas menebar rahnat bagi alam semesta. Di atas tugas ini, manusia harus menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan kepada setiap makhluk. Tugas kekhalifahan adalah tugas melestarikan dan memakmurkan bumi, menabur kasih-sayang dan menjunjung tinggi moralitas. Tugas kekhalifahan adalah tugas mencegah kriminalitas dan kerusakan. Sungguh berat. Sebab tindak criminal dan pengrusakan bisa dilakukan siapa saja. Bisa individu, sekelompok orang, institusi, bahkan oleh penguasa.

Maka, agar manusia dapat menjalankan tugas berat ini, Allah menganugerahi setiap manusia sejumlah potensi, sarana, sekaligus panduan. Bahkan, demi tugas itu, semua fasilitas yang ada di bumi ini dicipta dan disediakan. Kepada manusia, Allah 'azza wajalla juga menganugerahkan ilmu, menyiapkan pahala tak terhingga, gelar-gelar kehormatan, serta syurga agar manusia lebih sibuk melaksanakan tugas kekhalifahannya.

Tetapi, sungguh tidak mudah menjalankan tugas kekhalifahan. Manusia bukan malaikat yang sudah pasti tidak akan pernah mengkhianati amanat. Manusia juga bukan setan yang “setia” dijalur gelap dan berjanji akan terus menggelapkan manusia.

Manusia adalah makhluk ambigu. Selain dianugerahi akal yang bisa membimbing menemukan kebenaran wahyu, manusia juga dianugerahi nafsu yang berpotensi merongrong manusia sehingga mudah tertipu. Maka, di sinilah peran Islam. Allah menganugerahkan Islam agar tidak terjebak pada sifatnya yang ambigu. Agar dapat memahami tugas utamanya sebagai abdi, sekaligus memainkan peran kemanusiaannya sebagai khalifah.

Di sinilah peran agama dan pendidikan. Agama yang benar menjadi kebutuhan dasar manusia. Pendidikan yang benar menjadikan agama sebagai menu utama. Tanpa agama yang benar, manusia akan tumbuh liar. Tanpa pendidikan yang benar, manusia tidak akan memahami tugas utamanya sebagai khalifah. Agama harus menjadi basis dan menu utama pendidikan agar manusia dapat menjalankan tugas kekhalifahannya dengan benar dan menyelamatkan. Bukan melahirkan generasi atau pemimpin liar! (Abdul Hakim, M.Pd.I/Pimred LAZISMU Surabaya).

Senin, 07 Maret 2011

KONTRAK IBADAH


Seorang muslim pasti (harus) tahu tugas hidupnya yang utama adalah beribadah, mengabdi atau menghamba hanya kepada Allah, Sang Maha Pencipta, sebagaimana termaktup dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat 56. Jadi, beribadah adalah keniscayaan yang harus dipenuhi sebagai kontrak hidupnya selaku manusia. Kewajiban beribadah ini memang tidak dibebankan kepada binatang atau syaithon. Karena itu,tanpa ibadah, manusia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Ibadah adalah bukti syahadat. Seorang muslim yang telah mengikrarkan diri dengan menyebut dua kalimat syahadat harus membuktikan ikrar tersebut dalam bentuk ibadah-demi ibadah. “Hanya kepada-Mu kami beribadah, mengabdi, atau menghamba !” demikian ikrar yang harus diulang minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Demi menyadari tugas utama ini, seorang muslim akan beribadah dengan tulus, cerdas, sabar, istiqomah, dan kaffah.

Melalui ibadah, seorang muslim mengagungkan, mensucikan, dan memuji Allah, Robbul 'Alamin. Melalui ibadah, manusia mengakui keagungan, kebesaran, kekuasaan, dan kasih-sayang-Nya yang tidak terhingga. Tidak ada Yang Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Pencipta dan Maha Memelihara kecuali Allah SWT.

Melalui ibadah seorang muslim menyatakan syukur. Mensyukuri nikmat-nikmat yang tak terhingga. Nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat merdeka, nikmat agama, nikmat dunia, dan nikmat syurga yang tentu tak terukur dan tak sebanding dengan takaran nikmat dunia.

Ibadah bagi setiap muslim, seperti disyariatkan dalam Kitab Suci-Nya adalah laksana air zam-zam, penyejuk dan penyegar setiap dahaga spiritual. Penawar bagi racun-racun kehidupan. Cahaya bagi kegelapan hati, dan pencerah bagi pikiran yang kusut-masai oleh kejahilan.

Tentu, ibadah bukan sebatas seremoni ritual yang kering apresiasi dan penghayatan. Ibadah juga bukan sekedar kejar tayang demi menggugurkan kewajiban. Ibadah adalah nafas, sekaligus ruh kehidupan. Tanpa ibadah, manusia adalah bangkai.

Maka, seorang mukmin akan beribadah tanpa terikat ruang dan waktu. Ia akan beribadah di lisan, di hati, dan di lembar-lembar amal. Dunia ini adalah ladang ibadah. Bumi ini masjid yang membentang. Sejadahnya menghampar panjang dari hilir, hingga muara kehidupan. Sungai-sungainya mengalirkan air jernih, mensucikan najis dan membersihkan setiap lumpur dosa yang menggelapkan.

Seorang mukmin akan beribadah penuh cinta dan gairah sampai Allah memandang layak menganugerahkan kemuliaan sejati. Atau, sampai senyum menyungging di ujung kematian.

ABDUL HAKIM, MPdI- Pimpinan Redaksi Majalah LAZISMU.

KADO RAMADHAN

KADO RAMADHAN

Jadual Imsakiyah Ramadhan 1437 H

Jadual Imsakiyah Ramadhan 1437 H

AKSI BERSAMA LAZISMU

AKSI BERSAMA LAZISMU

Tanggap Bencana

Tanggap Bencana

CIMB NIAGA SYARIAH